PALOPOPOS.CO.ID, PALOPO– Langit di atas Ponjalae diselimuti asap tebal. Hari belum berganti, tapi bumi sudah seperti terbakar dua kali: oleh matahari dan oleh mesiu. Aroma kayu hangus dan bubuk mesiu bersaing memenuhi udara. Suara tangis perempuan, jeritan anak-anak, dan teriakan perintah tempur bersahut-sahutan membentuk simfoni luka.
Kampung nelayan itu kini nyaris rata. Rumah-rumah panggung yang dulu berdiri berjajar, kini ambruk satu demi satu. Pesisir berlumur lumpur merah, bercampur darah dan pasir. Masih ada warga yang berusaha menyelamatkan perahu, menggiring anak-anak ke perbukitan, dan membawa jenazah menuju pemakaman darurat.
Andi Tadda berdiri di depan rumahnya, tubuhnya berbalut debu dan asap. Ia belum berganti pakaian sejak pagi, dan warna merah dari kunyahan sirihnya makin pekat. Di belakangnya, bendera Kerajaan Luwu tetap berkibar, meski tiangnya condong karena letusan meriam dari laut. Ia menatap langit, seperti mencari pertanda apakah sisa hari ini akan memberinya sedikit keajaiban.
Dari kejauhan, seorang pengintai berlari mendekat. Nafasnya terengah.
“Opu, pasukan Andi Pangiu terdesak di Salobulo. Mereka tidak bisa bertahan lebih lama.”
Andi Tadda menatap tajam. “Berapa orang yang masih bersama dia?”
“Tinggal separuh dari pasukan semula. Ia terluka. Tapi ia tidak mundur ke kota. Ia naik ke arah Lebang.”
Andi Tadda mengangguk pelan. Ia tahu Andi Pangiu bisa saja membawa pertempuran ke jantung kota Palopo, tapi memilih tidak. Itu bukan kelemahan. Itu harga diri. Kota harus diselamatkan, sekalipun harus kehilangan ladang tempur.
Di sisi lain, di balik belukar di ujung kampung, beberapa pasukan bertahan dengan tombak dan kelewang. Mereka kehabisan senjata. Beberapa anak muda masih berdiri tegak, tapi tatapan mereka mulai redup. Di antara mereka, seorang pengawal muda, wajahnya penuh jelaga, bertanya lirih, “Opu, apa kita akan kalah?”
“Kita bertahan di sini,” ujar Andi Tadda. “Sampai langit dan tanah menyatu. Sampai musuh tahu bahwa Luwu tidak dijual.”
Andi Tadda berdiri di tengah lapangan kecil yang dahulu tempat bermain anak-anak kampung. Di sekelilingnya, para pejuang tersisa bersiap dalam diam. Mata mereka letih, tapi tak ada satu pun yang berpaling.
Dentuman berikutnya mengguncang bumi. Pasukan Kompeni mendorong maju dari tiga arah. Pertahanan terakhir mulai runtuh. Dalam hiruk-pikuk itu, Andi Tadda masih berdiri, badik di tangan, sorot matanya seperti api yang enggan padam.
Ia menangkis, menebas, dan menerjang. Di banyak tempat, ia muncul seperti kilat, membakar semangat pasukannya. Tapi jumlah dan senjata tak seimbang. Satu demi satu pejuang roboh. Andi Tadda pun akhirnya terkepung. Tubuhnya terluka, darah mengalir dari lengan dan pundak. Namun ia masih menatap lawan tanpa gentar.
—
Di Langkanae, istana Datu yang megah kini hanya sunyi. Para serdadu Kompeni telah masuk, menelusuri tiap sudutnya. Tangga besar dari batu tua itu diinjak dengan sepatu-sepatu asing. Tiang-tiang kayu ulin penuh ukiran disorot lampu minyak. Di tengah ruang utama, hanya ada tappere boddong kuning kosong tempat Datu biasa duduk. Tak ada perlawanan. Tak ada kejayaan tersisa di ruang itu.
“Mereka meninggalkan istana ini seperti siput yang menyisakan cangkangnya,” gumam seorang Opsir Kompeni.
“Tak penting. Kita tahu siapa yang kita kejar,” ujar yang lain, lalu menoleh ke Daeng Paroto. “Bawa aku ke kampung itu. Aku ingin lihat bagaimana seorang pemberontak mengakhiri hidupnya.”
—
Sore menjelang, tapi tidak ada tanda-tanda perang berhenti. Andi Tadda berjalan menyusuri sisa barisan pasukannya. Ia tahu jumlah mereka jauh berkurang. Tapi sorot mata mereka masih menyala. Ia sempat menepuk bahu seorang anak muda dari Uru.
“Namamu siapa?”
“Sulung, Opu.”
“Kalau kau hidup besok, ceritakan bahwa Luwu pernah menolak tunduk. Dan kau adalah saksi hidupnya.”
Anak muda itu mengangguk dengan mata berkaca. Beberapa warga mendekat, memohon agar Andi Tadda menyelamatkan diri.
“Kami bisa membawa Opu ke arah Pantilang. Ada jalan rahasia.”
Andi Tadda menggeleng. “Luwu tak butuh pahlawan yang lari. Ia hanya butuh satu orang yang tetap berdiri.”
Ia naik ke panggung rumahnya yang sebagian sudah terbakar di sisi barat. Dari situ ia melihat laut. Kapal-kapal Kompeni makin dekat, terlihat lebih banyak. Mereka menurunkan sekoci lagi, membawa pasukan tambahan. Meriam kembali menyalak. Tanah bergetar.
Di tangannya, ia menggenggam badik warisan ayahnya. Tajam dan bercahaya. Ia mengangkatnya sebentar ke langit, lalu menyelipkannya di pinggang.
—
Kampung Ponjalae mulai dikepung dari tiga arah. Dari laut, dari selatan, dan dari arah jalan tanah yang menuju kota. Pasukan Kompeni kini lebih percaya diri. Mereka tahu lawannya tinggal sisa-sisa.
Di antara barisan Kompeni, seorang opsir berjalan di tengah dengan dada membusung. Di belakangnya, Daeng Paroto melangkah perlahan. Tatapan matanya kosong.
Saat sampai di depan rumah Andi Tadda, sang Opsir berteriak:
“Andi Tadda..! Masihkah kau ingin menantang kami? Luwu akan rebah hari ini!”
Andi Tadda keluar ke depan rumahnya. Bajunya lusuh, wajahnya hitam oleh jelaga. Ia berdiri tegak, tanpa gentar. Pasukan Kompeni membidiknya dari tiga arah.
Dengan suara lantang ia berkata:
“Jika kalian menginginkan Luwu tunduk, kalian harus melewati tubuhku dulu! Kerajaan ini tak akan jatuh sebelum aku rebah!”
Pasukan Kompeni mendekat. Letusan senapan terdengar bersahutan. Pengawal terakhir Andi Tadda gugur satu per satu. Ia sendiri masih berdiri, mencabut badiknya dan menyerang. Tapi jumlah bukan di pihaknya.
Dalam keadaan terdesak, tubuhnya ditahan beberapa serdadu. Ia masih memberontak, namun tak mampu lagi. Dengan tubuh yang dipenuhi luka, ia tetap menatap para penyerangnya dengan sorot mata yang tak sudi tunduk.
Akhirnya, Andi Tadda ditangkap hidup-hidup. Tangan dan kakinya diikat. Tubuhnya diseret ke bawah pohon kelapa yang masih berdiri kokoh di tengah reruntuhan kampung. Sekitar tempat itu, pasukan Kompeni memasang penjagaan ketat.
Daeng Paroto menunduk, tak mampu menatap wajahnya.
“Luwu belum tunduk,” gumam Andi Tadda lirih, “dan kalian belum menang.”
Hari mulai gelap. Di langit barat, mentari turun perlahan di balik kabut dan asap. Ponjalae diam, seolah menahan napas untuk sesuatu yang lebih besar. Andi Tadda belum gugur. Tapi kematiannya hanya soal waktu. Dan waktu itu… hampir tiba. (*)
Agen234
Agen234
Agen234
Berita Terkini
Artikel Terbaru
Berita Terbaru
Penerbangan
Berita Politik
Berita Politik
Software
Software Download
Download Aplikasi
Berita Terkini
News
Jasa PBN
Jasa Artikel
News
Breaking News
Berita